Senin, 09 April 2012

MANUSIA dan PENDERITAAN


A.   PENGERTIAN PENDERITAAN

Penderitaan  berasal  dari  kata  derita. Kata  derita  berasal  dari  bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung  atau merasakan susuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat lahir atau batin  atau  lahir  batin. Penderitaan  bertingkat-tingkat  ada  yang  berat  ada  yang ringan,  namun  peranan  individu  juga  menentukan  barat  tidaknya  intensitas penderitaan. Suatu  peristiwa  yang  dianggap  penderitaan  oleh  seseorang  belum tentu  merupakan  penderitaan  bagi  orang  lain. Dapat  pula  suatu  penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang  atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.

B.   SIKSAAN

Siksaan  dapat  diartikan  sebagai  siksaan  badan  atau  jasmani,  dan  dapat juga  berupa  siksaan  jiwa  atau  rokhani. Akibat  siksaan  yang  dialami  seseorang, timbullah penderitaan. Dengan siksaan-siksaan itu Allah akan menganiaya mereka, namun mereka jualah yang menganiaya diri sendiri, karena dosa-dosanya. Siksaan  yang  dialami  manusia  dalam  kehidupan  sehari-hari  banyak  terjadi  dan banyak dibaca diberbagai media massa. Bahkan kadang-kadang ditulis dihalaman pertama dengan judul huruf besar, dan kadang-kadang disertai gambar si korban. Berita  mengenai  siksaan  kita  temui  dalam  kehidupan  sehari-hari,  sebuah harian   ibukota   (pos   kota)   halaman   pertama   isinya   sebagian   besar   adalah mengenai  siksaan,  pembunuhan,  pemerkosaan,  pencurian,  perampokon,  dan sebagainya.

Dengan   demikian   jelaslah   disatu   pihak   kasus   siksaan,   pemerkosaan, perampokan,  pembunuhan  dan  lain-lain  merupakan  sumber  keuntungan. Karena dengan   mengekspose   berita-berita   seperti   itu   koran   itu   cukup   laku,   dan mempunyai oplaag yang tinggi. Siksaan  yang  sifatnya  Psikis  misalnya  kebimbangan,  kesepian  dan  ketakutan. Kebimbangan  dialami  oleh  seseorang  bila  ia  pada  suatu  saat  tidak  dapat menentukan  pilihan  mana  yang  akan  diambil.  Misalnya  pada  suatu  saat  apakah seseorang  yang  bimbang  itu  pergi  atau  tidak,  siapakah  kawannya  yang  akan dijadikan  pacar  tetapnya. Akibat  dari  kebimbangan  seseorang  berada  dalam keadaan  yang  tidak  menentu,  sehingga  ia  merasa  tersiksa  dalam  hidupnya  saat itu. Bagi orang yang lemah berpikirnya, masalah kebimbangan akan lama dialami, sehingga siksaan itu berkepanjangan. Tetapi bagi orang yang kuat berpikirnya ia akan cepat mengambil suatu keputuan, sehingga kebimbangan akan cepat dapat diatasi.

Kesepian dialami oleh seseorang merupakan rasa sepi dalam dirinya atau jiwanya, walaupun  ia  dalam  lingkungan  orang  ramai,  kesepian  ini  tidak  boleh  dicampuradukkan  dengan  keadaan  sepi  seperti  yang  dialami  oleh  petapa  atau  biarawan yang  tinggalnya  ditempat  yang  sepi. Tempat  mereka  memang  sepi  tetapi  hati mereka tidak sepi. Kesepian juga merupakan salah satu wujud dari siksaan yang dialami seseorang. Seperti halnya kebimbangan, kesepian perlu cepat diatasi agar seseorang jangan terus  menerus  merasakan  penderitaan  batin,  sebagai  homo  socius,  seseorang perlu  kawan,  maka  untuk  mengalahkan  rasa  kesepian  orang  perlu  cepat  macari kawan yang dapat diajak untuk berkomunikasi. Pada umumnya orang yang dapat dijadikan kawan duka adalah orang yang dapat mengerti dan menghayati kesepian yang  dialami  oleh  sahabatnya  itu,  selain  mencarin kawan, seseorang juga perlu mengisi waktunya dengan suatu kesibukan, khususnya  yang  dapat  bersifat  fisik, sehingga rasa kesepian tidak memperoleh tempat dan waktu dalam dirinya. Ketakutan merupakan bentuk lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan  batin. Bila rasa takut itu dibesar-besarkan yang tidak pada tempatnya, maka  disebut  sebagai  phobia. Pada  umumnya  orang  memiliki  satu  atau  lebih phobia ringan seperti takut pada tikus, ular, serangga dan lain sebagainya. Tetapi pada  sementara  orang  ketakutan  itu  sedemikian  hebatnya  sehingga  sangat mengganggu. Seperti  pada  kesepian,  ketakutan  dapat  juga  timbul  atau  dialami seseorang walaupun lingkungannya ramai, sebab ketakutan merupakan hal yang sifatnya  psikis.

Banyak  sebab  yang  menjadikan  seseorang  merasa  ketakutan, antara lain :

a.       Claustrophobia dan Agoraphobia.
Claustrophobia adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup, sedangkan Agoraphobia  adalah  rasa  takut  yang  disebabkan  seseorang  berada  di  tempat terbuka.

b.      Gamang merupakan ketakutan bila seseorang di tempat yang tinggi. Hal itu disebabkan karena ia takut akibat berada di tempat yang yang tinggi, misalnya seseoarang harus melewati jermbatan yang sempit, sedangkan dibawahnya air yang mengalir, atau seseoprang takut meniti dinding tembok dibawahnya.

c.       Kegelapan  merupakan  suatu  ketakutan  seseorang bila ia berada  di tempat yang gelap. Sebab dalam pikirannya dalam kegelapan demikian akan muncul sesuatu yang ditakuti, misalnya setan, pencuri, orang yang demikian menghendaki agar ruangan tempat tidur selalu dinyalakan lampu yang terang.

d.   Kesakitan merupakan ketakutan yang disebabkan oleh rasa sakit yang akan dialami seseoarng yang takut diinjeksi, ia sudah berteriak-teriak sebelum jarum injeksi ditusukkan kedalam tubuhnya. Hal itu disebabkan karena dalam pikirannya semuanya akan menimbulkan kesakitan.

e.  Kegagalan merupakan dari seseorang disebabkan karena merasa bahwa apa yang akan dijalankan mengalami kegagalan. Seseorang yang patah hati tidak mudah untuk bercinta lagi, karena takut dalam percintaan berikutnya juga akan terjadi kegagalan, trauma  yang pernah dialaminya telah menjadikan dirinya ketakutan kalau sampai terulang lagi.

APA YANG MEMBUAT SESEORANG MENJADI PHOBIA?

Ahli-ahli  medis  mempunyai  pendapat  yang  berbeda-beda  dan  banyak penderita  yang  mempunyai  teori  tentang  asal  mula  dari  ketakutan  mereka. Kebanyakan  phobianya  dimulai  dengan  sesuatu  schock  emosional  atau  suatu tekanan pada waktu tertentu, misalnya pekerjaan baru, kematian dalam keluarga, suatu  orerasi  atau  sakit  yang  serius. Beberapa  penderita  mengatakan  bahwa mereka  memang  merasa  gelisah dan tertekan sejak masih kanak-kanak, tetapi phobia juga dapat berkembang dalam diri orang-orang yang kelihatannya tenang dan mantap. Tanpa pengobatan   anak-anak yang menderita phobia sekolah dapat berkembang menjadi agoraphobia   yang parah bila mereka sudah biasa, kesukarannya adalah, bahwa orang tua sulit membedakan antara kemalasan yang kadang-kadang timbul dan phobia yang sebenarnya.
Umumnya  ada  dua  aliran  tentang  penyebab  phobia.  Ahli-ahli  ilmu  jiwa cenderung  berpendapat  bahwa  phobia  adalah  suatu  gejala  dari  suatu  problema psikologis yang dalam, yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukkan sebelum phobianya  akan  hilang. Sebaliknya  ahli-ahli  yang  merawat  tingkah  laku  percaya bahwa  suatu  phobia  adalah problemanya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli-ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah.

C.   KEKALUTAN MENTAL

Penderita kekalutan mental dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental,  secara  lebih  sederhana  kekalutan  mental  dapat  dirumuskan  sebagai gangguan  kejiwaan  akibat  ketidak  mampuan  seseorang  menghadapi  persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.

Gejala-gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah:

a.  Nampak  pada  jasmani  yang  sering  merasakan  pusing,  sesak  napas,  demam, nyeri pada lambung

b.  Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.

Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :

a.  Gangguan  kejiwaan  nampak  dalam  gejala-gejala  kehidupan  si  penderita  baik jasmani maupun rokhaninya

b.  Usaha  mempertahankan  diri  dengan  cara  negatif,  yaitu  mundur  atau  lari, sehingga  cara  bertahan  dirinya  salah,  pada  orang  yang  tidak  menderita gangguan  kejiwaan  bila  menghadapi  persoalan  justru  cepat  memecahkanproblemnya,  sehingga  tidak  menekan  perasaannya.  Jadi  bukan  melarikan  diri dari persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan

c.  Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.

Sebab-sebab  kekalutan  mental,  dapat  banyak  disebutkan  antara  lain  sebagai berikut : 

a.  Kepribadian  yang  lemah,  akibat  kondisi  jasmani  atau  mental  yang  kurang sempurna,  hal-hal  tersebut  sering  menyebabkan  yang  bersangkutan  merasa rendah  diri  yang  secara  berangsur-angsur  akan  menyudutkan  kedudukannya dan manghancurkan mentalnya. 

b.  Terjadinya   konflik   sosial   budaya,   akibat   norma   berbeda   antara   yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan  diri  lagi,  misalnya;  orang  pedesaan  yang  berat  menyesuiakan diri  dengan  kehidupan  kota,  orang  tua  yang  telah  mapan  sulit  menerima keadaan baru yang jauh berbeda dari masa jayanya dulu.

c.   Cara   pematangan   batin,   yang   salah   dengan   memberikan   reaksi   yang berlebihan terhadap kehidupan sosial; over acting sebagai overcompensatie

Proses- proses kekalutan mental yang dialami oleh seseorang mendorong ke arah :

a.  Positif  :  trauma  (luka  jiwa)  yang  dialami  dijawab  secara  baik  sebagai  usaha agar  tetap  survive  dalam  hidup,  misalnya  melakukan  sholat  tahajud  waktu malam  hari  untuk  memperoleh  ketenangan  dan  mencari  jalan  keluar  untuk mengatasi  kesulitan  yang  dihadapinya,  ataupun  melakukan  kegiatan  yang posif.

b.  Negatif : trauma yang dialami diperlarutkan atau diperturutkan, sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan.

BENTUK FRUSTASI ANTARA LAIN :

1.     Agresi berupa kemarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tidak terkendali dan  secara  fisik  berakibat  mudah  terjadinya  hypertensi  (tekanan  darah  tinggi) atau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya.

2.   Regresi  adalah  kembali  pada  pola  reaksi  yang  primitif  atau  kekanak-kanakan (infantil),  misalnya  dengan  menjerit-jerit,  menangis  sampai  meraung-raung, memecah barang-barang.

3.    Fiksasi adalah peletakan atau pembatasan pada suatu pola yang sama (tetap), misalnya   dengan   membisu,   memukul-mukul  dada   sendiri,   membentur-benturkan kepala pada benda keras.

4.   Proyeksi  merupakan  usaha  melempar  atau  memproyeksikan  kelemahan  dan sikap-sikap sendiri yang negatif pada orang lain, kata pepatah; awak yang tidak pandai menari,dikatakan lantai yang berjungki

5.    Identifikasi  adalah  menyamakan  diri  dengan  seseorang  yang  sukses  dalam imaginasinya,  misalanya  dalam  kecantikan  yang  bersangkutan  menyamakan diri dengan bintang film, dalam soal harta kekayaaan dengan pengusaha kaya yang sukses

6.   Narsisme  adalah  self  love  yang  berlebihan,  sehingga  yang  bersangkutan merasa dirinya superior dari pada orang lain.

7.  Autisme adalah gejala menutup diri secara diri secara total dari dunia riil, tidak mau berk omunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yang dapat menjurus ke sifat yang sinting.

PENDERITA KEKALUTAN MENTAL BANYAK TERDAPAT DALAM LINGKUNGAN SEPERTI 

1.      Kota-kota besar yang banyak memberi tantangan-tantangan hidup yang berat sehingga  oarang  merasa  dikejar-kejar  dalam  memenuhi  kebutuhan  hidupnya, sebagaian  orang  tidak  mau  tahu  terhadap  penderitaan  orang  lain, akibat egoisme sebagai ciri masyarakat kota.

2.     Anak-anak   muda   usia   yang   tidak   berhasil   dalam   mencapai   apa   yang dikehendaki  atau  diidam-idamkan,  karena  tidak  berimbangnya  kemampuan dengan tujuannya, sehingga pada orang-orang usia tuapun sering mengalami penderitaan  dalam  kenyataan  hidupnya  akibat  norma  lama  yang  dipegang teguh sudah tidak sesuai dengan norma baru yang berlaku.

3.    Wanita   pada   umumnya   lebih   mudah   merasakan   suatu   masalah   yang dibawanya   kedalam   hati   atau   perasaannya,   tetapi   sulit   mengelurkan perasaannya tersebut, sementara itu mereka memiliki kondisi tubuh yang lebih lemah,  sehingga  kaum  wanitalah  yang  banyak  menjadi  penderita  penderita psikosomatisme (penyakit akibat gangguan kejiwaan) dari pada kaum pria.

4.      Orang yang tidak beragama tidak memiliki keyakinan, bahwa diatas dirinya ada kekuasaan yang lebih tinggi, sehingga sifat pasrah umumnya tidak dikenalnya, dalam  keadaan  yang  sulit  orang  yang  demikian  ini  mudah  sekali  mengalami penderitaan

5.   Orang yang terlalu mengejar materi seperti pedagang dan pengusaha memiliki sifat   dalam   memperoleh   tujuan   kegiatannya,   yaitu   mencari   keuntungan sebanyak mungkin, mereka adalah kaum materialis dan mengabaikan masalah spritual yang justru membuat seseorang pasrah pada saat-saat tertentu.

Penderitaan   maupun   siksaan   yang   dialami   oleh   manusia   memang merupakan beban berat, sehingga dunia ini benar-benar merupakan neraka dalam hidupnya. Bagi mereka yang mulai merasakan tidak mampu lebih lama menderita, biasanya terlontar kata-katanya lebih baik mati dari pada hidup, dengan pengertian bahwa dengan kematiannya, maka berakhirlah penderitaan yang dialaminya. Itulah sebabnya mereka yang terlalu menderita dan merasa putus asa, laluy mengambil jalan pintas, dengan bunuh diri.

D.   PENDERITAAN DAN PERJUANGAN 

Setiap  manusia  pasti  mengalami  penderitaan,  baik  berat  ataupun  ringan. Penderitaan  adalah  bagian  kehidupan  manusia  yang  bersifat  kodrati.  Karena  itu terserah  kapada  manusia  itu  sendiri  untuk  berusaha  mengurangi  penderitaan  itu semaksimal  mungkin,  bahkan  menghindari  atau  menghilangkan  sama  sekali.  Manusia adalah mahluk berbudaya dengan budayanya itu ia berusaha mengatasi penderitaan  yang  mengancam  atau  dialaminya.  Hal  ini  membuat  manusia  itu kreatif,  baik  bagi  penderita  sendiri  maupun  bagi  orang  lain  yang  melihat  atau mengamati penderitaan.

Penderitaan  dikatakan  sebagai  kodrat  manusia,  artinya  sudah  menjadi konsekwensi manusia hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan juga menderita. Karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis, yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis ia harus berusaha mengatasi kesulitan hidup.

Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya   ialah   berjuang   menghadapi   tantangan   hidup   dalam   alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka.Manusia hanya merencanakan dan Tuahan  yang  menentukan.  Kelalaian  manusia  merupakan  sumber  malapetaka yang  menimbulkan  penderitaaan.  Penderitaan  yang  terjadi  selain  dialami  sendiri oleh  yang  bersangkutan,  mungkin  juga  dialami  oleh  orang  lain.  Bahkan  mungkin terjadi  akibat  perbuatan  atau  kelalaian  seseorang,  orang  lain  atau  masyarakat menderita.

E.   PENDERITAAN, MEDIA MASA DAN SENIMAN

Dalam dunia modern sekarang ini kemungkinan terjadi penderitaan itu lebih besar. Hal ini telah   dibuktikan oleh kemajuan teknologi dan sebagainya menejahterakan  manusia  dan  sebagaian  lainnya membuat manusia. Penciptaan bom atom, reaktor nuklir, pabrik senjata, peluru  kendali,  pabrik  bahan  kimia merupakan sumber peluang terjadinya penderitaan manusia. Hal ini sudah terjadi seperti bom atom di Hirosyima dan Nagasaki, kebocoran reaktor nuklir di Unisovyet,  kebocoran  gas  beracun  di  India. Penggunaan  peluru  kendali  dalam perang Irak.

Beberapa   sebab   lain   yang   menimbulkan   penderitaan   manusia   ialah kecelakaan,  bencana  alam,  bencana  perang  dan  lain-lain. Contohnya  ialah tenggelamnya  kapal  Tampomas  Dua  di  perairan  Masalembo,  jatuhnya  pesawat hercules  yang  mengangkut  para  perwira  muda  di  Condet,  meletusnya  gunung Galunggung, perang Irak dan Iran.

Media masa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat  segera menilai  untuk  menentukan  sikap antara  sesama  manusia  terutama  bagi  yang  merasa  simpati. Tetapi  tidak  kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga para  pembaca, penontonnya dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni. Sebagai  contoh  bagaimana  penderitaan  anak  yang  bernama  Arie Hanggara  yang mati  akibat  siksaan  orang  tuanya  sendiri  yang  difilmkan  dengan judul Arie Hanggara.

F.    PENDERITAAN DAN SEBAB-SEBABNYA

Apabila  kita  kelompokkan  secara  sederhana  berdasarkan  sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan dapat diperinci sebagai berikut :
  1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan manusia
Penderitaan  yang  menimpa  manusia  karena  perbuatan  buruk  manusia  dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini  kadang  disebut  nasib  buruk.  Nasib  buruk  ini  dapat  memperbaiki  nasibnya. Perbedaan  nasib  buruk  dan  takdir,  kalau  takdir  Tuhan  yang  menentukan sedangkan nasib buruk itu manusia penyebabnya.
Karena  perbuatan  buruk  antara  sesama  manusia  maka  manusia  lain menderita misalnya:

1.      Pembantu rumah tangga yang diperkosa, disekap, disiksa oleh majikannya, sudah  pantas  jika  majikan  yang  biadab  itu  diganjar  dengan  hukuman penjara  oleh  Pengadilan  Negri  Surabaya  supaya  perbuatan  itu  dapat diperbaiki  dan  sekaligus  merasdakan  penderitaan,  sedngkan  pembantu yang telah menderita itu dipulihkan

2.     Perbuatan   buruk   orang   tua   Arie   Hanggara   yang   menganiaya   anak kandungnya  sendiri  sampai  mengakibatkan  kematian,  sudah  pantas  jika dijatuhi    hukuman    oleh    pengadilan    Negri    Jakarata    Pusat    supaya perbuatannya itu dapat diperbaiki dan sekaligus merasakan penderitaa

3.      Perbuatan buruk pejabat pada zaman Orde Lama dilukiskan oleh seniman Rendra    dalam    puisinya    "Bersatulah    Pelacur-pelacur    Kota    Jakarta" perbuatan    buruk    yang    merendahkan    derajad    kaum    wanita,    yang memandang wanita tidak lebih dari pemuas nafsu seksual. Karya Rendra ini dipandang  sebagai  salah  satu  usaha  memperbaiki  nasib  buruk  itu  dengan mengkombinasikannya  kepada  masyarakat  termasuk  pejabat  dan  pelacur ibu kota itu.

Perbuatan   buruk   manusia   terhadap   lingkungannya   juga   menyebabkan penderitaan   manusia,   Tetapi   manusia   tidak   menyadari   hal   ini,   Mungkin kesadaran  itu  timbul  setelah  musibah  yang  membuat  manusia  menderita misalnya : 

1.  Musibah  banjir  dan  tanah  longsor  di  Lampung  selatan  bermula  dari penghunian  liar  dihutan  lindung,  kemudian  dibabat  menjadi  tandus  dan gundul  oleh  manusia-manusia  penghuni  liar  itu.  Akibatnya  beberapa  jiwa jadi korban banjir, ratusan rumah hancur, belum terhitung lagi jumlah ternak dan   harta   benda   yang   hilanh/musnah.   Segenap   lapisan   masyarakat, pemerintah dan ABRI bekerja sama untuk membebaskan para korban dari penderitaan ini.

2.  Perbuatan lalai mungkin kurang kontero terhadap tanki-tanki penyimpanan gas-gas  beracun  dari  perusahaan  "Union  Carbide"  di  India.  Gas-gas beracun  dari  tangki  penyimpanan  bocor  memenuhi  dan  mengotori  daerah sekitarnya,  mengakibatkan  ribuan  penduduk  penghuni  daerah  itu  mati lemas dan mengalami cacat. Inilah penderitaan manusia karena perbuatan lalai  dari  pekerjaan  atau  pimpinan  perusahaan  itu.  Ia  bertanggung  jawab untuk memulihkan penderitaan manusia disitu.

b.  Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan
Penderitaan manusia dapat  juga  terjadi  akibat  atau  siksaan / azab  Tuhan. Namun  kesabaran,  tawakal,  dan  optimisme  dapat  merupakan  usaha  manusia untuk mengatasi penderitaan itu.

Banyak contoh kasus penderitaan semacam ini dialami manusia. Beberapa kasus penderita dapat diungkapkan berikut ini :

1.    Seorang anak lelaki buta sejak dilahirkan, diasuh dengan tabah oleh orang tuanya. Ia disekolahkan, karena kecerdasannya, ia memperoleh pendidikan sampai di Universitas dan akhirnya memperoleh gelar Doktor di Universitas Dsabone   Perancis. Dia adalah   Prof.   DR   Thaha   Husen,   guru   besar Universitas di Kairo, Mesir.

2.  Nabi  Ayub  mengalami  siksaan  Tuhan,  tetapi  dengan  sabar  ia  menerima cobaan  ini. Bertahu-tahun  ia  menderita  penyakit  kulit,  sehingga  istrinya bosan  memeliharanya,  dan  ia  dikucilkan. Berkat  kesabaran  dan  pasrah kepada  Tuhan,  sembuhlah  ia  dan  tampak  lebih muda, sehingga  istrinya tidak mengenalinya lagi. Disini kita dihadapkan kepada masalah sikap hidup kesetiaan, kesabaran, tawakal, percaya, pasrah, tetapi juga sikap hidup yang lemah seperti kesetiaan dan kesabaran sang istri yang luntur karena penyakit Nabi Ayub yang cukup lama.

G.  PENGARUH PENDERITAAN
Orang  yang  mengalami  penderitaan  mungkin  akan  memperoleh  pengaruh bermacam-macam  dan  sikap  dalam  dirinya. Sikap yang timbul  dapat  berupa  sikap  positif  ataupun  sikap  negatif. Sikap  negatif  misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri, Sikap ini diungkapkan dalam peribahasa "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna", "nasib  sudah  menjadi  bubur". Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalnya anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.

Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian  penderitaan,  melainkan  perjuangan  membebaskan  diri  dari penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap keras atau sikap anti, misalnya anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin paksa, anti ibu tiri,ia berjuang menentang kekerasan dan lain-lainnya.

Apabila  sikap  negatif  dan  positif  ini  dikomunikasikan  oleh  para  seniman kepada  para  pembaca,  penonton, maka  para  pembaca,  para  penonton  akan memberikan penilainnya. Penilaian itu dapat berupa kemauan untuk mengadakan perubahan  nilai-nilai  kehidupan  dalam  masyarakat  dengan  tujuan  perbaikan keadaan. Keadaan yang  sudah  tidak  sesuai ditinggalkan dan diganti dengan keadaan yang lebih sesuai, keadaan yang berupa hambatan harus disingkirkan.

Sumber:
http://ocw.gunadarma.ac.id/.../ilmu-budaya-dasar/manusia-dan-penderitaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar